Hmong Village, Thailand - Tinggi dan Ramah
Sebagai member baru di sebuah choir,
aku hanya bisa mengikuti agenda yang sudah di rencanakan sebelum aku bergabung.
Ya, inilah salah satu agenda kami. Mission Trip ke Chang Mai, Thaniland.
Saat itu keadaan di Thailand sudah
sedikit aman. Ada dua kubu yang berselisih paham. Kubu Merah dan kubu Kuning.
Kalian masih ingat? Sedikit info saja, saat itu keadaan politik di Thailand
kurang bagus dimana masyarakat ada yang pro dengan kerajaan dan ada yang pro
dengan pemerintah. Mereka yang pro dengan kerajaan menggunakan atribut tapi
yang paling mencolok adalah kaos atau t-shirt berwarna kuning sedangkan, pro
pemerintahan menggunakan atribut atau t-shirt berwarna merah.
Tak jarang terjadilah tumpah darah
di beberapa tempat karena mereka berselisih paham. Supaya tak terjadi hal yang
tidak diinginkan, pemerintah menganjurkan untuk tidak menggunakan kedua warna
tersebut saat keluar rumah. Hingga sekarang warna merah masih menjadi warna
yang tabu di Thailand. Pemerintah juga membuat system curfew alias jam berlaku
untuk berkeliaran diluar rumah . Mulai pukul sepuluh malam sampai enam atau
empat pagi tidak ada yang boleh keluar rumah tanpa alasan yang tak jelas.
Minimarket pun banyak yang tutup saat jam operasi itu di berlakukan. Efek nya,
membeli minuman keras pun tidak boleh mulai dari pukul sepuluh malam sampai
enam pagi.
Polisi dan tentara banyak yang
berjaga-jaga dengan pistol panjang ditangan mereka. Hal ini sudah lumrah bila
keadaan politik seperti ini. Maka semakin mencekam lah keadaan malam saat itu. Chiang
Mai masih memperlaku kan system curfew itu walaupun banyak tempat sudah aman
dan tidak menggunakan system curfew. Salah satunya Bangkok.
Dengan iman dan tujuan yang mulia,
kami tetap pergi ke Chiang Mai. Sebelum makan siang kami sudah siap untuk
meninggalkan kampus kami tercinta selama weekend. Kami berjumlah dua puluh satu
orang dengan satu conductor serta satu
guru pembimbing. Doa sebelum berangkat kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha
Esa supaya perjalanan kami aman sampai kami kembali lagi ke kampus.
Awal perjalanaan ini kami kira akan memakan
banyak waktu karena banyak dari teman-teman Thai kami mengatakan perjalanan
akan tersendat. Banyak pos-pos yang akan memeriksa tiap-tiap kendaraan supaya
tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan di saat kondisi politik belum
sepenuhnya aman. Ternyata Tuhan berkata lain. Hanya ada satu pos yang memeriksa
kami dan itu pun polis hanya berbicara
dengan driver kami.
Dua belas jam perjalanan adalah waktu
yang normal bila menggunakan bus dari Bangkok ke Chiang Mai. Kami tiba sudah
tengah malam. Istirahat menjadi pilihan kami. Keesokan harinya kami bangung
pagi-pagi agar tidak rebutan kamar mandi. Setelah sarapan pagi, kami warn up (pemanasan)
dan juga briefing sebelum acara ibadah dimulai. Kami beribadah di Chiang Mai Adventist
Academy, bersama anak-anak SMP dan SMA disini.
Ternyata kami bukan tinggal di
sekolah ini tapi kami harus pergi ke sebuah kampung di atas bukit. Dua mobil bak
terbuka siap membawa kami menuju ke atas bukit. Katanya sih Hmong Village.
Perjalanan kami tidak begitu lancar
karena di tengah jalan hujan deras datang menerpa. Kami yang berada di dalam
mobil berinisiatif untuk duduk di luar agar barang-barang kami tidak basah. Udara
di sini sudah dingin bertambah dingin pula dengan hujan yang mendera. Hampir satu
jam dari tempat kami pergi di sekolah Chiang Mai Adventist Academy, akhirnya
kami tiba.
Di sebuah gedung bekas gereja yang
dijadikan tempat tinggal. Di dalam gedung sudah di sediakan sebuah api unggun
dan tempat tidur untuk kami beristirahat. Di pikiran kami hanya satu, untuk
saat ini kami butuh kehangatan. Api unggun adalah pilihan kami untuk
menghangatkan badan. Setelah merasa hangat kami memutuskan untuk mandi dan ada
pula yang makan. Hanya ada satu kamar mandi yang tersedia dan paling dekat
tempat kami tinggal. Walaupun kami berbagi ada yang makan dan ada yang mandi,
tetap saja akan memakan waktu yang lama untuk dua puluh satu orang. Kami memutuskan
untuk mandi di rumah warga sekitar saja untuk menghemat waktu.
Warga sekitar juga ramah dan tak jarang ada
yang menawarkan air panas untuk kami. Kami memilih air dingin saja shingga
membuat pikiran dan jiwa kami segar kembali. Selesai mandi, kami kembali
melanjuta kan aktivitas makan malam. Saat makan malam di mulai banyak ibu-ibu
yang datang untuk membawakan makanan lagi buat kami. Mereka sanggat senang akan
kedatangan kami. Karena kami lah yang pertama datang berkunjung ke tempat
mereka dan karena kami akan bernyanyi buat mereka.
Ibu-ibu ini juga menawarkan kami
untuk menggunakan pakaian adat mereka. Dengan senang hati kami terima tawaran
itu. Jujur saja, untuk trip kali ini kami hanya membawa satu seragam saja dan
tadi siang sudah kami gunakan. Ibu-ibu ini datang lagi dengan membawa kan
pakaian adat yang sudah mereka kumpulkan dari rumah-rumah agar kami semua bisa
menggunakan nya untuk performance kami nanti.
Banyak koin-koin yang di jadi
satukan dengan baju adat ini sehingga menimbulkan bunyi-bunyi saat kami
bergerak. Baju adat dengan manic-manik menjadi pilihan conductor kami supaya
tak menimbulkan suara nanti nya saat performance nanti.
Tibalah saat nya untuk kami
bernyanyi. Semua lagu kami nyanyikan dalam Bahasa Inggris karena kami
kebanyakan adalah anak-anak international. Mereka sanggat menyukai lagu-lagu
dari kami. Walau pun aku yakin mereka gak mengerti Bahasa Inggris. Atusiasme
inilah yang membuat semanggat kami menjadi lebih, lebih, lebih hidup lagi. Hingga
tak terasa sudah hampir curfew dan kami harus pulang ke tempat kami
masing-masing. Kami sedih, begitu pula dengan mereka. Tapi apa daya kami ini
sudah menjadi peraturan yang harus kami taati.
Tiba di gedung awal kami tiba kami beristirahat karena besok
akan pulan dari Hmong Village ini. Begitu pula dari Chiang Mai. Hari Senin
sudah menanti kami untuk mulai kuliah. Tak apalah kami tidak jadi
keliling-keliling di Chiang Mai yang penting kami bisa merasakan kebaikan dan
keramah tamah di tempat tinggi ini. Di Hmong Village dimana dinginnya cuaca tak
membuat masyarakat disini menjadi dingin. Tapi, mereka hangat seperti api unggun
yang siap melayani kami dengan senyuman. Walaupun tetap, kami tidak mengerti
bahasa mereka tanpa translater.
Jub Jub




Komentar
Posting Komentar