Miss Lonely - Prom 2

Cuplikan Cerbung Sebelum nya:

"Al, ini gua Ana" panggi Ana dari luar.
"Cerita dong sama gua" paksa Ana pada ku.

"Hai light" 
"Aku tahu orang nya siapa" 
"Kamu datang ke prom ya. Nanti di situ akan ada surprise buat dia. Jangan ngurung diri terus kasihan mama kamu. Bye cantik" 


"Ma, aku pergi ya" pamit ku pada mama saat Mang Udin sudah bersiap di depan.
"Ana juga tante pergi dulu ya" pamit Ana pada mama.
"Hati-hati ya, Nak" ucap mama. "Ana, titip Alika ya, jangan di biarkan dia kabur sendirian" pesan mama pada Ana.
"Tenang tante, aku siap jadi bodyguard  nya Alika" jawab Ana mantab.


"Udah ah, Alika sama Ana pamit ya" kata ku sambil mencium tangan mama begitu juga dengan Ana.

"Mang Ujang nanti Alika telepon ya" pesan ku pada Mang Ujang sebelum turun dari mobil.

"Al, gua ke tempat Ka Tian dulu ya. Dia udah bawel nih gua gak jalan bareng dia" pamit Ana padaku. Ana pergi meninggalkan ku saat kepala sekolah naik ke atas panggung. Beliau memberikan kata sambutan sebelum acara ini officialy di mulai. Aku menemukan dua bangku kosong buat ku dan Ana. Tiba-tiba seorang pria asing duduk di samping ku. Aku tak tahu dia siapa karena wajahnya di tutupin topeng. Dia memberikan aku sebuah kertas. Aku bingung harus berbuat apa tapi dia memamksa untuk menerimanya. Aku terima surat itu dan mulai membaca isinya. Aku shocked. Aku mencari Ana tapi dia tidak ada di sekitar panggung. Pria asing ini juga sudah menghilang entah kemana. Orang-orang yang duduk di meja ku ini pun sudah tak ada lagi. Aku bingung harus berbuat aku. Aku mencoba menghubungi Mang Udin tapi HP nya Mang Udin sibuk. Aku mulai kalut. Tiba-tiba ada orang yang membawaku ke lantai dansa. Aku tak bisa menolak karena dia benar-benar memaksa ku untuk berdansa. Apa yang harus aku lakukan? Tolong aku....


¯¯¯¯¯¯¯

"Hai, light" panggil sesorang yang berada di belakang ku. Aku tidak bisa melihat apakah dia cowo atau cewe karena lampu yang berkelap-kelip. Siapa dia? Dana kenapa dia memanggil ku light seperti Ka Adi? Apakah dia Ka Adi? Tapi kenapa suaranya berbeda? Aku mulai pusing karena banyak hal-hal tak baik berkeliaran di dalam otak ku. Belum lagi musik yang hinggar bingar ini membuat ku tambah pusing. Aku mencoba bersikap tenang tapi sia-sia. Sialnya lagi, Ana tak terlihat. Sekarang orang-orang yang berada di lantai dansa ini mengelilingi ku dan memanggil nama ku dengan sebutan light. Mereka menunjuk-nunjuk diriku dan tak jarang mereka menertawakan ku. Aku ingin menangis karena aku tidak tahan lagi. Kenapa mereka tega berbuat seperti ini? Apa salah ku? 

Entah dia pahlawan ku atau tidak yang jelas pria yang menarik ku ke lantai dansa membawa ku keluar dari lingkaran setan ini. Dia membawa ku ke atas panggu dan mengambil microphone yang berada di atas panggung.

"Hai" sapa nya pada kami semua. Seketika musik hinggar bingar ini berhenti. Semua orang menatap pada kami berdua. Aku malu dan menundukan kepala ku tapi dia menahan kepala ku menunduk. Kepala ku di paksa melihat ke depan. Aku melihat orang-orang di bawah panggung mencibir kami. Mana Ana, kok dia tidak terlihat? "Hey, ngapain lu nunduk, takut?" tanya nya sarkastis. Ini suara perempuan. Jadi, dia perempuan toh. "Lu kira gua Adi ya? Hahahahaha gak usah ngarep lu" sambung nya dengan tertawa bahagia. Ini membuat orang-orang lain tertawa juga. Mereka menertawakan ke bodohan ku. Ku kira dia pahlawan ku ternyata tidak. "Lu, tahu Adi itu gak mungkin datang karena dia ada di dalam kamar salah satu hotel ini dengan gua" aku tercengang mendengar kata-katanya. "Dan lu tahu sama siapa?" aku menggelengkan kepala ku. "Dengan sahabat lu sendiri" jawab nya. Aku kaget. Gak mungkin. Ana gak mungkin berada sekamar dengan Ka Adi karena tadi dia bilang mau pergi menemui Ka Tian. Ada apa ini? Dan kemana guru-guru yang lain? "Lu gak percaya?" tanya orang aneh ini. "Kalau gitu kita liat aja live report dari ketua OSIS kita. HAhahahahaha..." tawa nya membahana di ikuti seluruh orang-orang yang berada di dalam ruangan ini.

Layar di belakang ku menanpil kan sebuah kamar dengan nomor yang tertera di pintu itu. Tiba-tiba pintu itu terbuka. Baju wanita yang ku kenal sebagai milik Ana berserakan di lantai. Dan sekarang layar menampilkan sepasang pria dan wanita yang sedang tertidur di atas tempat tidur. "Ya, ampun Ana" itu suara kepsek. "Dan kamu, matikan kamera itu sekarang" perintah kepsek saat video itu di pada cameramen. Tak lama kemudian live report itu pun selesai. Suasana berubah menjadi heboh. Aku ingin menitiskan air mata tapi batin ku tidak mau. Lu, harus kuat Alika. Jangan lemah. Batin ku menenangkan ku. 

"See, sekarang nobody be with you. Even your bestie betray you. HAhahahaha..." ucap nya bahagia. Dan dia mendekati ku sekarang. Mau apa lagi dia? "Alika Azharra" ucap nya mantap. "Gua bukan lagi looser. Tapi elu yang looser. Mulai hari ini jangan pernah lagi lu muncul di hadapan gua, Karina Agustina " ucapnya sambil membuka topeng hitam seperti Zorro dari wajahnya. Karin? Kenapa lu tega? tanya ku dalam hati. "Karena gua gak suka sama elu. Dan elu adalah benalu perempuan jalang" sambung nya sambil menarik topeng dari wajah ku dengan kasar hingga membuat sedikit goresan pada wajah ku. "Sana lu pergi, perempuan jalang" ucapnya sambil mendorong ku dengan kasar. Aku terjatuh dan rapuh. Air mata itu keluar secara almiah. Aku tak kuat untuk berdiri apalagi, orang-orang mulai menyoraki ku. Dua orang pria naik ke atas panggung dan membawa ku pergi dengan kasar hingga keluar pintu ballroom ini. Aku berjalan gontai dengan air mata yang bercucuran. Tak ku hirau kan tatapan iba dan bertanya-tanya dari orang-orang. Yang ku inginkan sekarang adalah pulang ke rumah dan mengurung diri lagi di kamar. 

Tak terasa ternyata aku sudah berada di parkiran mobil. Mang Ujang yang melihat ku langsung datang menjemput ku. Dia membuka kan pintu dan bertanya, "Ada apa, Neng? Kok sendirian?" tapi aku tak menghiraukan nya dan terus menangis. 

"Kita pulang, Mang" hanya itu yang keluar dari mulut ku. Mang Ujang menjalankan mobil tapi itu tak membuat nya berhenti bertanya-tanya.

"Neng Ana sama Mas Adi kemana?" tanya nya penasaran. Dan karena pertanyaan itu lah membuat ku tambah hancur dan menangis melihat apa yang baru saja terjadi di antara mereka. Seolah mengerti, Mang Ujang diam dan terus menyetir mobil di tengah kemacetan Jakarta. Gosh, even Jakarta gak peduli sama gua. 

¯¯¯¯¯¯¯

Segini dulu ya. Semoga menjawab rasa penasaran kalian. Btw, aku minta doa dong untuk minggu ini mau UAS. Terima kasih atas doa-doanya. Nanti setelah selesai UAS aku bakalan update lagi ya.. Bye..

Jub, jub

XOXO

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Miss Lonely- The Beginning

Miss Lonely - Graduation

Rasa